Patuhi Guru Yogamu Tanpa Mengorbankan Kehormatanmu

Bedakan ‘adjustment’ yang bisa ditolerir dan tidak. Karena murid punya martabat. (Wikimedia Commons)

SAYA pernah mengikuti Bikram Yoga beberapa tahun lalu. Dan saat itu, nama semua studio yang menyelenggarakan kelas Bikram adalah Bikram Yoga.

Namun, beberapa waktu terakhir saya baru menyadari bahwa studio-studio tadi sudah berganti nama. Mereka tak lagi menyandang nama “Bikram” tapi “Hot Yoga”.

Rupanya usut punya usut ada kejadian yang kurang mengenakkan soal Bikram Choudury, si pendiri Bikram Yoga itu.

Sebagai seorang guru yoga termasyhur dan bisa dikatakan paling fenomenal keberhasilannya ‘menjual’ yoga sedemikian rupa untuk kepentingan pribadi, namanya beberapa tahun lalu pernah lekat dengan skandal seks. Namanya pernah dimasukkan dalam tuduhan pelecehan seksual bahkan pemerkosaan yang dialami sejumlah murid wanitanya.

Ngeri!

Lalu beberapa malam lalu, tak sengaja saya menemukan sebuah judul film yang berkaitan dengan yoga saat menjelajah katalog Netflix. Judulnya “Bikram: Yogi Guru, Predator“.

Wow, pikir saya, ini pasti kontroversial.

Benar juga. Di sini kita bisa mendapati penjelasan panjang lebar soal riwayat Bikram Choudury sebelum ia menjadi guru yoga di AS dan menjadi salah satu guru yoga yang paling ambisius secara finansial.

Beberapa fakta yang baru saya ketahui berdasarkan film tersebut adalah bahwa ternyata Bikram dahulu adalah atlet angkat besi yang pernah mengalami kecelakaan di arena Olimpiade Tokyo tahun 1964. Bikram muda saat itu berlaga demi negaranya India dan tak disangka lutut kirinya kena hantam beban yang jatuh. Akibatnya beberapa bulan ia tak bisa berjalan. Ia baru bisa berjalan begitu bertemu dengan guru yoganya di masa kecil sebelum menekuni dunia angkat besi. Di situ ia dimotivasi gurunya untuk kembali berlatih yoga dan akhirnya berhasil juga si Bikram kembali berjalan. Ia bahkan mengaku bisa melakukan posisi lotus kembali. Sebagaimana kita ketahui, posisi ini sangat menantang bagi sendi lutut memang. Sakit sekali rasanya kalau belum terbiasa.

Begitu mengalami pengalaman yang menurutnya sangat mengubah hidupnya itu, Bikram berambisi mengajar yoga ke Amerika Serikat.

Ia bercerita bahwa ia bisa mendapat kewarganegaraan AS karena ia sudah berhasil mengobati penyakit Presiden Nixon dengan yoga. Banyak yang percaya dan tak mengkonfirmasi pihak Nixon. Di kemudian hari, diketahui bahwa Nixon sendiri menyangkal klaim Bikram.

Sebenarnya dalam belaja yoga yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menyeleksi guru. Kenapa? Karena guru ini sosok yang sangat vital perannya dalam menuntut ilmu. Begitu salah pilih guru, konsekuensinya bisa besar sekali dalam perjalanan kita beryoga.

Beberapa aspek yang bisa dijadikan pertanda atau peringatan (red flag) yang seharusnya diindahkan oleh semua murid yoga saat memilih guru adalah bagaimana si guru yoga itu menggunakan kata-kata dalam kelasnya. Kata-kata yang indah dan menyenangkan memang tak bisa menjamin jiwa dan pikiran si manusia pasti bersih tapi jika dari perkataan saja sudah banyak mengalir kekotoran dan kekejian, bisa dipastikan risiko yang harus ditanggung muridnya pasti juga lebih besar untuk bisa mendapatkan pengetahuan secara tak murni.

Di film tersebut, dikatakan Bikram kerap menggunakan kata-kata bernada ofensif, menghina dan merendahkan para muridnya terutama yang menurutnya bertubuh kurang ideal, gemuk, terlihat malas, kurang berusaha keras saat berasana di kelas. Ia memanggil murid perempuan “bitch“, dan pernah mengatai seorang perempuan kulit hitam dengan panggilan rasis dan bahkan mengusirnya dari kelas.

Aspek lain yang bisa menjadi peringatan lainnya ialah cara berpakaian seorang guru. Perhatikan bagaimana seorang guru berpakaian. Apakah caranya berpakaian masih bisa selaras dengan tujuannya mengajar yoga atau sudah melenceng jauh dari itu?

Dalam kasus Bikram, ia kerap mengenakan speedo yang seharusnya dipakai dalam olahraga lompat indah atau renang karena sangat kompak dan streamlined. Sebenarnya tidak begitu terasa aneh karena yogi-yogi era sebelumnya juga berlatih dengan cawat atau secarik kain untuk menutup kemaluan saja untuk memaksimalkan gerakan yoga. Tapi yang agak kurang nyaman ialah saat mengenakan itu ia juga menyentuh tubuh muridnya.

Aspek lain yang harus diperhatikan ialah bagaimana ia memperlakukan murid di luar tembok kelas. Kadang orang lupa bahwa guru yang sejati harus mencerminkan apa yang ia omongkan atau nasihatkan pada muridnya. Istilahnya: walk the talk.

Bikram sendiri selalu mengklaim dirinya orang yang paling suci, murni dan paling ‘yogi’ di dunia tapi sebenarnya jika dicermati, gaya hidup dan perilakunya sehari-hari jauh dari itu semua. Ia gemar kemewahan, yang dibuktikan dengan koleksi mobil mewahnya yang tak sedikit. Ia selalu menyelenggarakan pelatihan mengajar di hotel-hotel mewah dengan memungut biaya 10 ribu dollar per kepala. Ia hobi mengenakan pakaian bermerek mahal dan ini saja sudah semestinya menjadi sebuah peringatan keras bagi para muridnya. Dan Bikram tak merasa risih atau malu untuk memamerkan kekayaannya itu. Ini justru sangat aneh kalau dimaklumi.

Di luar kelas, Bikram sering memanggil murid-murid ‘kesayangannya’ ke kamar malam atau dini hari hanya untuk menemaninya nonton film Bollywood dan memijit badannya. Di sinilah awal mula pelecehan seksual dan pemerkosaan itu bisa terjadi. Karena murid-murid ini merasa harus mematuhi sang guru dalam segala kondisi dan waktu tanpa kecuali. Bikram merasa dirinya sudah menjadi manusia separuh dewa dan para muridnya yang terlalu patuh menjadi sangat mudah dimanipulasi. Di sini memamg tak mudah untuk mereka melawan karena Bikram sudah memiliki popularitas dan ia memanfaatkannya dengan sebaik mungkin dengan hanya memberikan izin membuka studio pada mereka yang ia anggap pantas. Dan begitu bisa membuka studio dengan nama “Bikram Yoga”, bisa dijamin studio itu pasti laris manis karena reputasi semu yang sudah dibangun Bikram melalui media massa termasuk TV sudah begitu solid.

Hal lain yang bisa dijadikan peringatan ialah apakah guru yoga kita begitu peduli dengan hak cipta dan hak komersialisasi atas versi yoga yang ia ‘ciptakan’ atau tidak. Semakin ia bersemangat dan menunjukkan ambisi yang terlalu tinggi secara tak wajar sampai menghalalkan segala cara, di situ kita patut waspada. Guru-guru yang terlalu mengejar aspek keuntungan finansial ini berisiko untuk memandang semua hal berdasarkan untung rugi. Sangat transaksional. Kalau tidak menguntungkan mereka secara finansial, buat apa? Dan yang membuat kesal adalah kadang guru-guru yoga pengejar duit ini terlalu fokus mengakui hasil kerja keras mereka sampai mereka lupa bahwa yoga yang mereka dapatkan sekarang itu didapat dari guru-guru terdahulu dan mereka tak memberikan sedikitpun pengakuan atas jasa guru itu dalam karya-karya tulis yang mereka buat. Seolah semua pengetahuan dan pengalaman yoga itu datang dari langit. Gedebuk! Jatuh begitu saja di pangkuannya. Hal ini juga dilakukan Bikram karena ternyata sekuen Bikram Yoga yang khas itu dicomot dari buklet yoga milik guru yoganya di India dulu. Dan Bikram tak pernah mengakui bahwa itu dia ambil dari sang guru.

Jadi sebagai pembelajar yoga, marilah kita pelihara daya pikir kritis agar tidak mudah dimanipulasi oleh guru-guru yoga yang tak bertanggung jawab. Guru-guru yoga tetaplah manusia dan jangan dipuja bak dewa. Mereka bisa menyalahgunakan kepercayaan dan loyalitas tanpa batas kita sebagai murid. (*/)

Author: akhlis

Writer & yogi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s