Perlukah Indonesia Punya ‘Yoga Alliance’-nya Sendiri?

AKHIR-akhir ini kontroversi mengenai wadah resmi pengajar yoga semakin memuncak saja. Ada yang pro dan pasti juga ada yang kontra. Sebagian berkata bahwa pelaku yoga di Indonesia perlu didata sehingga jika ada masalah yang menimpa mereka nantinya akan bisa dibantu dalam mengatasinya. Maklum, jumlah pengajar yoga [dan orang yang mengaku sebagai pengajar yoga] juga makin lama makin banyak sehingga tak terbendung rasanya. Karenanya, dirasakan adanya kebutuhan yang makin mendesak untuk mendirikan sebuah organisasi yang mampu mengayomi. Sementara itu, yang lain kurang sepakat, dengan alasan bahwa yoga bukanlah sesuatu yang harus diatur secara ketat. Sisanya masih belum paham dengan perlunya sebuah organisasi. Kalau ada juga tak banyak berpengaruh dengan kehidupan mereka sebagai guru yoga, pikir mereka. Intinya, semua memiliki pendapatnya sendiri-sendiri dalam mendukung atau menolak kehadiran sebuah organisasi pemersatu ini.

Dalam tulisan saya tiga tahun lalu, saya pernah menuliskan tentang upaya merintis wadah resmi para pelaku [baca : guru] yoga nusantara. Sayangnya, setelah itu tampaknya belum ada jodoh sehingga kelanjutannya tidak ada (silakan baca di “Merintis Wadah Resmi Para pelaku Yoga Nusantara“).

Situasi ini mungkin ada kesamaannya dengan situasi dunia yoga di Amerika Serikat sebelum dan selama masa-masa awal Yoga Alliance baru berdiri dan beroperasi sebagaimana sekarang.

Apa itu Yoga Alliance (YA)?

Meskipun organisasi  satu ini bermarkas di AS, ada juga pengajar-pengajar yoga di Indonesia yang sudah terdaftar di sana. Dan tiap hari makin banyak pengajar yoga dan sekolah yoga di tanah air yang mendaftarkan diri di YA.

YA sebetulnya didirikan pada tahu  1997 sebagai sebuah organisasi ‘nirlaba’. Saya pakai tanda petik di sini, karena sebagian pihak meragukan status ‘nirlaba’ itu. Kenapa? Karena untuk bisa masuk ke daftar pengajar resmi mereka (yang mereka sebut registry), seorang pengajar wajib membayarkan sejumlah dana pada organisasi yang kantornya ada di Arlington, negara bagian Virginia, AS.

Dalam waktu 20 tahun sejak didirikan, YA telah memberikan sejumlah kewenangan bagi guru dan siswa berdasarkan sejumlah standar baku dalam pelatihan mengajar yoga (yoga teacher training) yang kemudian diakui sebagai acuan atau benchmark dalam pengajaran yoga di seluruh dunia.

Para pengajar yoga yang sudah terdaftar dan dianggap memenuhi syarat YA akan berhak menyandang gelar RYT [Registered Yoga Teacher], sementara sekolah bisa disebut RYS [Registered Yoga School] dan YACEP [Yoga Alliance Continuing Education Provider]. YA secara terus menerus mengadakan pengembangan dan dokumentasi atas guru-guru yoga.

Tujuan YA didirikan ialah untuk meningkatkan keamanan dan kualitas pelatihan yoga agar lebih profesional dan menyebarkan pengetahuan yoga pada masyarakat luas.

Apa keuntungan mendaftar ke YA?

Setelah membayarkan sejumlah dana, tentunya mereka yang terdaftar akan menikmati sejumlah benefit atau fasilitas. Apa saja itu?

Pertama mungkin menaikkan level profesionalisme dan gengsi pengajar, sekolah serta  studio yang menyandang gelar dari YA. Kedua, dikatakan ada diskon-diskon tertentu bagi RYT yang ingin membeli produk-produk yoga dari merek tertentu dari AS, workshop yoga, asuransi tertentu bahkan beasiswa.

Dengan mendaftar ke YA, kita juga bisa melayangkan keluhan jika ada oknum pengajar atau sekolah lain yang terdaftar di YA yang menurut kita sudah melakukan tindakan yang kurang pantas. YA memfasilitasi penyampaian keluhan tersebut secara resmi di situsnya. Dan ini bisa jadi mengendalikan risiko tindakan-tindakan pelecehan seksual yang sudah terjadi di kalangan yogi.

Apa kerugiannya?

Jujur saja, biaya pendaftaran keanggotaan yang berkisar antara 115 dollar (untuk pertama kali, dan kemudian 65 dollar per tahun untuk pembaruan setelahnya) demi sebuah status RYT memang bukan ongkos yang murah untuk semua guru. Bagi pengajar yang kondisi keuangannya mapan, tentunya bukan masalah, tetapi bagaimana dengan mereka yang sudah pas-pasan?

Ketidakpedulian murid juga kerugian lainnya. Pada kenyataannya, jangankan di Indonesia, di AS saja sejumlah studio, pengajar dan murid yang tidak peduli apakah seseorang memiliki status RYT atau tidak. Asalkan menurut mereka seseorang enak dalam mengajar, diajaklah untuk mengajar baik di kelas privat,  di hotel, atau studio yoga. YA juga dianggap oleh sebagian kalangan sebagai entitas bisnis saja, yang artinya mereka tidak memiliki kewenangan dan pengalaman apapun dalam yoga. Orang-orang di dalamnya bukanlah guru-guru yoga yang sudah berpengalaman mengajar yoga selama puluhan tahun. Mereka orang-orang biasa yang mungkin juga sama dengan kita, mungkin tahu sedikit banyak tentang yoga tetapi memiliki kepiawaian mengelola sebuah perusahaan secara profesional dan sistematis sehingga mereka tentu tidak bisa disamakan dengan tokoh-tokoh sebesar Iyengar, Pattabhi Jois, Krisnamacharya atau Indradevi. Pernahkah Anda kenal siapa itu Richard Karpel? Bukan, ia bukan guru yoga terkemuka tapi salah satu mantan pimpinan YA.

Lalu untuk apa gelar RYT, RYS dan YACEP?

Untuk bisa mengajar, seseorang perlu sertifikasi dari sebuah sekolah yoga dan kemauan serta kesiapan untuk mengajar. Karena tidak semua orang ikut pelatihan untuk mengajar. Ada yang belajar untuk dirinya sendiri.

Jadi, apakah perlu semua gelar itu untuk bisa menjadi guru yoga yang baik? Tentu tidak. Tapi jika memilikinya pun, bukan masalah juga, bahkan ada keuntungannya yakni meyakinkan calon murid Anda untuk mencoba belajar yoga bersama Anda.

Kenapa bisa muncul kontroversi?

Awalnya keberadaan YA memang dianggap bisa menyatukan komunitas yoga dalam hal pemberlakuan standar pengajaran yoga sehingga faktor keamanan [di AS makin banyak orang cedera karena yoga sejak makin banyaknya pelatihan mengajar yoga di mana-mana] bisa ditingkatkan. Apalagi ada sebagian oknum pengajar dan studio yang dengan seenaknya melabeli diri mereka.

Namun, dengan seiring berjalannya waktu, dirasakan adanya ketimpangan antara harapan dan kenyataan. YA dianggap sebagian pelaku yoga tidak mampu melaksanakan fungsi standarisasi dan verifikasi tersebut karena semua dokumentasi yang dikumpulkan pada mereka adalah dari pihak pendaftar sendiri, bukan dari tim YA sehingga keabsahannya lebih meyakinkan. Terasa kesan formalitas dalam pendaftaran hanya agar bisa diakui sebagai pengajar atau sekolah berlabel RYT atau RYS. Standar yang diberlakukan juga terkesan seadanya dan kurang. Lihatlah komposisi pelatihan 200 jam yang dibagi menjadi 100 jam latihan, 25 jam metodologi, 20 jam anatomi, 30 jam filosofi dan etika, serta 10 jam latihan mengajar.

Masalah lainnya yang tak kalah penting ialah mustahil bisa mengukur keterampilan dan kompetensi seseorang dalam mengajar yoga hanya dalam beberapa ratus jam saja. Penekanan hanya pada aspek kuantitas ini kemudian menimbulkan perdebatan panjang. Ada yang mengatakan menyelesaikan pelatihan mengajar ratusan jam bukan jaminan pasti seseorang menjadi guru yoga yang baik.

Sekali lagi memang hal itu ada benarnya. Tetapi menurut saya sendiri, sertifikasi YA itu haruslah dianggap sebagai niat baik untuk menertibkan. Jangan serta merta kita menyerahkan sepenuhnya pada YA. Tetap saja kita sebagai pelaku yoga harus secara mandiri melakukan penyaringan, bukan untuk orang lain tapi diri sendiri.

Jadi apakah Indonesia perlu punya ‘Yoga Alliance‘ sendiri?

Akhirnya untuk menjawab pertanyaan itu, kita perlu bertanya mengenai tujuan sebenarnya pendirian organisasi semacam itu. Apa pasal? Karena Indonesia kadang masih terlalu berkiblat ke Barat (baca: AS). Apapun yang dari AS terkesan lebih bagus dan bermutu (padahal belum tentu juga). Dengan kata lain, apakah tujuan kita mendirikan organisasi yoga itu murni untuk memajukan yoga di Indonesia atau hanya untuk sekadar ikut-ikutan? Atau apakah pendiriannya akan mengukuhkan ego pihak tertentu? Atau menjadi alat legitimasi bagi pihak tertentu untuk mengeksploitasi para pelaku yoga?

Ini semua nantinya bisa diketahui dari kejelasan visi dan misi, program-programnya, serta penerapan program-program itu di lapangan agar tidak hanya menjadi ‘lip service’ alias pemanis bibir saja.

Dan patut digarisbawahi juga bahwa pendirian organisasi tersebut idealnya tidak menyuburkan benih-benih permusuhan. Akan lebih baik jika organisasi tersebut bisa netral dan menaungi semua pelaku yoga di nusantara sehingga tidak berujung pada pencemaran ajaran yoga itu sendiri sebagai sebuah ajaran yang lekat dengan nilai ahimsa atau anti kekerasan.

Agar ini tidak terjadi, mari kita belajar dari kasus YA di Amerika Serikat sana. Benarkah kehadiran sebuah organisasi bisa memperbaiki kondisi yang ada atau malah tambah mengacaukannya karena gagal mengatasi masalah utama dan mengejar hal-hal lain yang tidak berkaitan atau malah menyimpang dari ajaran yoga itu sendiri?

Layaknya sebuah negara, akan selalu ada kelompok separatis yang tidak sepakat dan ingin memisahkan diri karen perbedaan yang menurut mereka tak bisa diabaikan. Dan jikalau nantinya memang terbukti demikian, lalu apakah kita harus menumpas mereka yang berada di luar lingkaran yang ‘resmi’? Atau setidaknya memaksa mereka untuk masuk ke dalam dengan segala cara baik itu yang pantas atau tidak pantas, manusiawi atau tidak, legal atau ilegal, etis atau tidak etis. Inilah  pekerjaan rumah kita bersama di masa depan.

Apapun pendapat kita mengenai hal ini dan perkembangannya nanti, tetaplah cintai yoga. Karena meski sikap dan tingkah polah manusia-manusia pelakunya kadang kurang sesuai harapan kita, tidak ada yang lebih penting daripada menggelar matras dan berlatih dengan sepenuh hati setiap saat Anda merasa membutuhkan yoga. (*/)

headstand

[Foto: Dok pribadi]

Daftar Referensi:

  1. “Yoga Alliance Aprroved, My Ass” oleh Leslie Kaminoff
  2. “Yoga Alliance Is Ruining Yoga” oleh James Brown
  3. “A Dispatch from the Field: Why Yoga Alliance Must Go” oleh James Brown

 

Advertisements

3 thoughts on “Perlukah Indonesia Punya ‘Yoga Alliance’-nya Sendiri?

  1. Kalau saya pribadi merasa tidak perlu untuk mendaftar YA, kenapa? Karena nggak ada niatan untuk mengajar diluar Indonesia. Sepenuhnya mendukung jika ada badan yang menaungi pelaku yoga Indonesia, seperti halnya cabang olah raga lain. Seolah tidak ada manfaatnya, tapi jika memang benar badan tersebut resmi pasti menyediakan pendampingan jika pelaku yoga mendapatkan masalah saat melakukan profesinya. Dan ini menurut saya sangat baik untuk praktisi yoga itu sendiri. Pro dan kontra hal yang biasa, tetapi mendukung program milik bangsa sensiri tentu bukan keputusan yg salah (menurut saya).

  2. Pingback: 9 Sikap Kurang Menyenangkan Instruktur Yoga di Media Sosial | YogAkhlis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s