Kisah Burung Kapinjala

kapinjalasana

ALKISAH seekor gajah berteduh di sebuah pohon beringin dan menganggap pohon itu sebagai miliknya. Sehingga tatkala seekor monyet datang dan mengklaim pohon itu milik si monyet, gajah pun gusar.

“Apakah kau melihat pohon ini berbuah?” tanya monyet.

“Tidak,” jawab sang gajah.

“Nah, aku sudah datang ke sini saat pohon ini masih berbuah. Aku lebih dulu dari kau!” hardik si monyet.

Sang monyet kemudian merasa di atas angin karena gajah menjadi respek padanya.

Tetapi sejurus kemudian datang seekor kelinci.

Kelinci itu berkata dirinya telah menemukan pohon beringin yang disengketakan ini sejak pohon itu bahkan masih berupa tunas. Jadi, gajah dan monyet harus mengalah padanya.

Namun demikian, begitu sang kelinci telah merasa jumawa, tiba-tiba turunlah seekor burung kapinjala yang membuat perdebatan tadi berhenti.

“Beringin ini sebetulnya milikku,” ucapnya dengan penuh percaya diri di depan tiga satwa lainnya yang ukurannya jauh lebih besar darinya itu.

Rupanya burung kapinjala inilah yang membawa sebuah biji di paruhnya dan kemudian memuntahkannya di lahan itu. Biji tersebut kemudian terus tumbuh besar menjadi pohon beringin yang mereka perdebatkan kepemilikannya. (*/)

Advertisements

Kiat Mengurangi Dampak Negatif Makanan Non Organik

baked basil bio bread

Photo by Pixabay on Pexels.com

TIDAK bisa dipungkiri sekarang bahwa makanan organik harganya lebih tinggi daripada harga makanan non organik. Hal itu mengakibatkan lebih banyak orang yang mengonsumsi produk non organik karena secara keuangan mereka lebih bisa menjangkaunya. Akibatnya, produk organik identik dengan segmen masyarakat yang memiliki kantong tebal. Padahal sebelum era industrialisasi sektor pertanian, produk pangan kita semua justru organik.

Sebagai pelaku yoga, saya juga memiliki perhatian terhadap aspek pangan karena bagaimanapun juga apa yang kita masukkan dalam tubuh ini akan mempengaruhi kesehatan dan keseimbangan raga dan jiwa. Karenanya jika Anda pelaku yoga, idealnya Anda memiliki perhatian terhadap pengaturan pola dan jenis makanan agar laku yoga Anda tidak sia-sia dan menjadi lebih paripurna. Tentu ini memerlukan disiplin tinggi dan tidak sembarang orang bisa menempuhnya. Namun, jika Anda juga seperti saya yang masih memiliki banyak keterbatasan untuk bisa mengadopsi pola makan dan asupan yang lebih sehat dan baik bagi tubuh, ada beberapa cara yang bisa ditempuh untuk meminimalkan dampak negatif makanan non organik pada tubuh dan lingkungan kita.

Pertama, kita bisa mengutamakan bahan pangan lokal. Selalu utamakan minuman dan makanan yang dapat didapatkan secara lokal. Bukan makanan impor, atau yang didatangkan dari daerah lain. Intinya, lebih dekat, lebih baik. Karena dengan begitu, makanan itu biasanya tidak diberi pestisida atau memerlukan pemrosesan atau pendinginan yang memerlukan banyak energi atau pengawetan dengan bahan-bahan tambahan yang bisa bersifat berbahaya bagi kesehatan.

Sebetulnya jika Anda memiliki liver yang bekerja dengan normal, bahan-bahan beracun dan berbahaya bagi tubuh termasuk pestisida yang ada dalam makanan non organik bisa dikeluarkan dari tubuh secara optimal. Namun, tubuh juga memiliki kemampuan terbatas dalam melakukan pembersihan. Ditambah dengan lingkungan dan gaya hidup modern yang kurang sehat, proses detoksifikasi tubuh juga makin menurun seiring dengan berjalannya usia manusia. Jika kita makin tua, alangkah bijaknya jika tidak membebani tubuh dan liver terutama dengan memakan makanan non organik yang jumlahnya besar setiap hari karena bahan beracun seperti pestisida, bahan pengawet dan zat aditif lain masuk terus-menerus ke dalam tubuh.

Apabila sistem detoksifikasi tubuh kita berjalan baik dan ingin mempertahankannya, cobalah kiat yang diberikan oleh pakar Ayurveda Dr. Neelesh Korde ini.

DIET
Caranya ialah dengan melakukan pengaturan asupan (diet) setiap triwulan atau setidaknya sekali setahun. Zat-zat racun seharusnya tidak dimasukkan dan ditumpuk di dalam tubuh. Zat-zat ini ada di mana-mana, baik dalam udara yang kita hirup, air yang kita minum dan makanan yang kita konsumsi. Kita tidak bisa mengendalikan dan menangkal itu semua. Namun, jangan stres! Tubuh kita memiliki mekanisme dan kecerdasan dalam membersihkan diri secara alami. Bagaimana tubuh kita bereaksi bergantung pada bagaimana kita sendiri memperlakukan tubuh. Maka, tugas kita ialah membantu tubuh agar bisa bekerja lebih optimal dalam membersihkan dirinya, bukan malah menghalanginya.

PIJAT
Pembersihan atau detoksifikasi ialah satu-satunya cara alami membuang racun dengan efektif dari tubuh, tanpa banyak mengganggu sistem kerja tubuh. Ada banyak cara detoksifikasi ala Ayurveda. Yang termudah yang bisa kita lakukan ialah pemijatan tubuh dengan minyak wijen setiap sehari sekali atau seminggu sekali. Ini membantu membuang toksin.

SAUNA
Keringat ialah medium pembuang racun lainnya. Anda bisa bermandi uap atau sauna untuk membuang toksin. Namun, metode ini mesti dilakukan di bawah pengawasan yang ahli. Tidak bisa sembarangan.

PUASA
Berpuasa juga cara mudah bersihkan diri dari racun. Korde menyarankan untuk berpuasa setengah hari setiap minggu. Caranya dengan melewatkan satu sesi makan dan memperbanyak minum air putih hangat selama puasa agar memudahkan sistem tubuh beristirahat sejenak. Di saat puasa ini, tubuh akan bisa rehat dari proses mencerna makanan sehingga bisa lebih fokus pada upaya membuang racun. (*/)

27 Buku Terbaik tentang Yoga

topless man reading book while seating at beach

Photo by Martin Péchy on Pexels.com

27 buku terbaik mengenai yoga yang perlu Anda baca:
1. “Patanjali Yoga Sutra” oleh Sri Ravi Shankar
2. “Hathapradipika” terbitan Kaivalyadham Yoga Institute
3. “Bhagavad Gita” yang diterjemahkan oleh A. C. Bhaktivedanta Swami
4. “Light on Yoga” oleh B. K. S. Iyengar
5. “Three Truths of Well Being” oleh Sadhguru
6. “Autobiography of a Yogi” oleh Paramahansa Yogananda dari Kriya Yoga
7. “Glimpses of Golden Childhood” oleh Osho
8. Mystic’s Musing oleh Sadhguru
9. “Yoga Anatomy” oleh Leslie Kaminoff
10. “The Journey Home” oleh Radhanath Swami
11. “The Sivananda Companion to Yoga: A Complete Guide to the Physical Postures, Breathing Exercises, Diet, Relaxation, and Meditation Techniques of Yoga”
12. “Meditation and Its Practice” oleh Swami Rama
13. “The Yoga Bible” oleh Christina Brown
14. “Yoga for Life” (A Journey to Inner Peace and Freedom) oleh Colleen Saidman Yee
15. “Yoga Sequencing: Designing Transformative Yoga Classes” oleh Mark Stephens
16. “Yoga for Beginners: An Easy Yoga Guide to Relieve Stress, Lose Weight and Heal Your Body” oleh Sophia Cannon
17. “Teaching Yoga: Essential Foundations and Technque” oleh Mark Stephens.
18. “Yoga: A Gem for Women” oleh Geeta Iyengar (anak perempuan BKS Iyengar)
19. “The Woman’s Yoga Book” oleh Geeta Iyengar
20. “Yogalosophy” oleh Mandy Ingber
21. “Yoga as Medicine” oleh Timothy McCall
22. “Yoga For Beginners: Best Yoga Poses For Weight Loss And Other Benefits” oleh Laura Serio
23. “Raja Yoga” oleh Swami Vivekananda
24. “Yoga: Mastering the Basics” oleh Sandra Anderson
25. “Karma Yoga” oleh Swami Vivekananda
26. “Jnana Yoga” oleh Swami Vivekananda
27. “Letters on Yoga and Integral Yoga” oleh Aurobindo

10 Alasan Menolak Yoga yang Paling Sering Ditemui

SERINGKALI saat kita bertemu dengan teman-teman kita yang memiliki keluhan kesehatan, kita terdorong untuk menyarankan mereka melakukan yoga. Kita mengetahui manfaatnya dan sudah merasakan dalam hidup kita sehingga secara otomatis dari mulut kita terlontar nasihat bernada:”Ayo ikut yoga!”

Sayangnya tidak semua orang mau menurutinya. Sebagian menolak dengan beragam alasan. Berikut ini adalah beberapa yang sering dikemukakan saat seseorang diajak beryoga tetapi enggan.

people exercising inside brown painted room

Photo by Tim Savage on Pexels.com

  1. Harus fleksibel untuk ikut yoga: Jika Anda merasa kaku, bayangkan Anda dalam 10, 20 atau 30 tahun mendatang. Mulailah berlatih sehingga Anda bisa menjadi lebih lentur. Yoga (dalam hal ini asana) membutuhkan kombinasi kekuatan, keseimbangan dan kelenturan. Setiap orang setidaknya memiliki salah satunya dan Anda bisa menggunakan itu untuk membantu Anda meningkatkan aspek lainnya yang masih kurang seiring dengan latihan rutin.
  2. Pria tak bisa beryoga: Yoga zaman dulu dirintis oleh kaum Adam dan dipraktikkan secara tertutup oleh ribuan pria ribuan tahun lalu. Selain itu, popularitas di antara kaum pria makin tinggi sekarang. Rasio pria dan wanita di kelas-kelas yoga asana juga makin meningkat dalam beberapa tahun terakhir karena orang mulai sadar bahwa yoga tidak hanya melatih kelenturan namun juga kekuatan, selain tentunya kesehatan secara holistik.
  3. Yoga terlalu mahal: Mayoritas studio yoga menawarkan kelas khusus bagi pemula. Ditambah lagi, ada banyak layanan yoga daring (online) yang bermunculan sekarang. Di YouTube Anda juga bisa menemukan banyak videonya (meskipun tentu berlatih dengan guru akan jauh lebih aman dan terarah).
  4. Yoga adalah agama: Yoga dibangun atas dasar spiritualitas dan upaya meningkatkan keseimbangan hidup dengan meningkatkan cinta kasih pada diri dan orang lain serta alam secara keseluruhan. Yoga tidak menghakimi agama mana yang benar atau salah. Ia menerima adanya semua keyakinan dalam umat manusia.
  5. Yoga bukan olahraga: Ada begitu banyak jenis, pendekatan dan metode yoga. Bagi Anda yang ingin mengalami pengalaman yang lebih mengarah ke aspek raga, cobalah kelas Ashtanga dan Power Yoga yang memeras keringat dan kalori. Kelas semacam ini akan meningkatkan detak jantung Anda, membangun kekuatan dan membakar kalori, sehingga pada akhirnya meningkatkan kesehatan fisik.
  6. Yoga hanya untuk anak muda: Dharma Mittra baru berusia 74 tahun namun ia masih bisa melakukan headstand tanpa tangan serta banyak pose menantang lainnya. Tentu Anda tak harus sekuat dia. Namun, jika Anda memiliki keterbatasan fisik, cobalah kelas lainnya yang lebih lembut dan sesuai dengan kondisi Anda. Opsi lainnya ialah mengambil kelas privat sehingga Anda bisa melakukan yoga secara rutin sendiri.
  7. Yoga terlalu banyak menuntut komitmen dan waktu: Latihan yoga apapun akan memberikan manfaat bagi Anda. Bahkan latihan yoga sesingkat 10 menit sehari bisa memberikan perbedaan jika dilakukan terus menerus. Mulailah beryoga di pagi hari atau waktu apapun yang sesuai dengan waktu luang Anda untuk meningkatkan kekuatan dan keseimbangan tubuh dan pikiran.
  8. Yoga hanya untuk mereka yang kurus dan bugar: Dalam kelas yoga, kita tidak diperkenankan untuk menghakimi apapun.Setiap orang hadir untuk meningkatkan kualitas hidup mereka, baik secara fisik dan mental. Ikutilah kelas pemula atau workshop dan masukilah kelas-kelas reguler. Bergantung pada niat Anda, yoga bisa membantu Anda menurunkan berat badan atau memungkinkan Anda untuk mencintai dan menerima diri sendiri.
  9. Hanya ada satu jenis yoga: Vinyasa ialah jenis yoga terpopuler saat ini karena menguras keringat dan orang banyak menyukainya sebagai latihan kardio yang bisa meningkatkan kebugaran dan ketahanan fisik. Namun, jangan salah. Ada banyak jenis dan pendekatan yoga lainnya yang berbeda dari vinyasa. Hatha Yoga juga bersifat fisik namun dalam kelas ini Anda akan disuguhi lebih banyak pose statis/ menahan. Kelas Power Yoga bersifat menguatkan otot dan melatih kerja jantung. Kelas Hot Yoga menambahkan panas untuk tantangan yang lebih tinggi. Semua ini hanya sejumlah kecil jenis pendekatan dan gaya yoga yang ada sekarang. Cobalah setiap kelas dan rasakan bedanya. Lalu Anda bisa tentukan kelas mana yang sesuai bagi diri Anda. Dan jika Anda bosan, Anda juga bisa beryoga dengan metode yang belum pernah Anda coba sebelumnya. Tidak ada yang bisa melarang Anda. Keputusan di tangan Anda.
  10. Yoga bukan untuk orang yang cedera atau menderita sakit kronis: Inilah justru mengapa orang yang berkondisi demikian harus mencoba yoga. Karena yoga bisa meningkatkan kesehatan dengan lebih aman jika dibimbing oleh praktisi/ guru yoga yang berpengalaman. Bicarakan cedera atau sakit Anda pada guru yang kompeten sehingga ia dapat memberikan modifikasi pada gerakan yoga atau teknik bernapas dalam kelas sehingga Anda bisa tetap beryoga dari tingkatan paling dasar. Di sini, kesadaran Anda sebagai murid juga harus ada agar cedera atau sakit tidak makin parah atau terpicu kembali. Saat nanti kesehatan Anda mulai membaik, Anda bisa meningkatkan level tantangannya dengan bertahap. Yoga bisa membantu proses penyembuhan penyakit-penyakit tertentu dan meredakan rasa sakit tanpa harus bergantung pada konsumsi obat peredam sakit (pain killer) yang berbahaya jika dikonsumsi dalam jangka panjang. (*/disadur dari Mindbodygreen)

Jason Crandell: Anda Adalah Anatomi Itu Sendiri

body stretching yoga beauty

Photo by Roman Davayposmotrim on Pexels.com

BANYAK guru dan murid yoga menganggap anatomi sebagai sebuah momok dalam pelatihan mengajar, workshop, dan sebagainya karena anatomi mengharuskan kita mengenal begitu banyak bagian penyusun tubuh fisik kita ini. Nama-nama yang semuanya asing karena diadopsi dari bahasa Latin memang lebih sulit untuk dihapal. Karena dianggap sebagai momok itulah, topik anatomi seolah dihindari sebisa mungkin atau jika memungkinkan hanya disinggung sedikit saja, ala kadarnya.

Untuk mengubah pandangan yang negatif mengenai anatomi dalam yoga inilah, kita perlu mengubah perspektif.

Bagaimana caranya?

Kita perlu mengatakan pada diri sendiri bahwa sebetulnya kita – para pemilik tubuh ini – sudah memahami anatomi lebih baik dari yang kita sangka. Sering kita merasa kewalahan atau bahkan sudah menyerah sebelum belajar anatomi karena kita merasa tidak tahu apa-apa soal anatomi. Padahal sebenarnya kita sudah mengenal tubuh kita, bukan?

Kita terlalu menyempitkan tingkat pemahaman anatomi sebagai kemampuan untuk menyebutkan dengan tepat semua otot dan tulang di tubuh, atau mampu menjelaskan pengertian ligamen, tendon, dan sebagainya. Padahal di sisi lain, saat kita melakukan semua aktivitas dengan sadar dan kita mengetahui bagian tubuh mana yang digerakkan saat bernapas, bergerak, di saat yang sama kita juga sebenarnya sudah sedikit banyak belajar anatomi. Inilah yang dikemukakan oleh Jason Crandell. “Saat kita merasakan tubuh kita bekerja, kita juga belajar anatomi,” guru yoga itu menegaskan.

Crandell menyarankan kita agar saat belajar anatomi, kita jangan terlalu terpaku pada buku. Alih-alih terlalu sibuk mencermati gambar-gambar otot, kerangka tubuh, mengapa kita tidak mempelajari tubuh kita sendiri? “Anda adalah anatomi itu sendiri!” Crandell menandaskan.

Ia juga merekomendasikan anatomi ditinjau sebagai sebuah peta yang global, sederhana dan fungsional daripada menganggap anatomi sebagai kumpulan elemen-elemen kecil yang rumit, memusingkan dan teoretis. Kita pusing dengan anatomi karena kita terobsesi menghapal semua nama Latin tulang dan otot.

Lagipula, kata Crandell, saat mengajar guru yoga — sedalam apapun pengetahuan anatominya — akan bisa dipahami lebih baik jika menyampaikan aspek anatomi dalam bahasa yang lugas dan simpel. Intinya, jangan mengorbankan efektivitas mengajar hanya demi terkesan terpelajar dan canggih di mata murid.

Crandell mencontohkan, daripada menggunakan istilah ‘femur’, ia memilih menggunakan “tulang paha” di kelas-kelas yoganya. Ia hanya menggunakan istilah anatomi jika sudah menjelaskannya di awal kelas. Jika tidak, ia hanya memakai istilah awam. Dengan demikian, para murid yang pemahaman anatominya bervariasi itu bisa memahami instruksi dengan mudah. (*/)